Rektor Universitas Jenderal Achmad Yani Buka TMC Prodi Ilmu Hubungan Internasional

Universitas Jenderal A. Yani – Bertempat di Aula Gedung Jenderal TNI Mulyono FISIP, Rektor Universitas Jenderal Achmad Yani, Prof. Hikmahanto Juwana, S.H., LL.M., Ph.D, secara resmi membuka kegiatan Table Manner Course (TMC) yang diselenggarakan oleh Prodi Ilmu Hubungan Internasional. Kegiatan ini berlangsung pada hari Jumat (6/1) dan bertemakan Etika Diplomatik di Era Diplomasi Digital.
Dalam membuka sambutannya, Rektor menyampaikan harapannya bahwa akan lahir seorang Diplomat yang lulusan dari Prodi Ilmu Hubungan Internasional FISIP Universitas Jenderal Achmad Yani. Selain itu, Rektor juga mengungkapkan dengan hadirnya Dr. H. Teuku Faizasyah, M.Si., Universitas Jenderal Achmad Yani ingin mempererat hubungan dengan Kemenlu RI. Sebagai penutup, Rektor kembali menyampaikan harapannya bahwa akan banyak mahasiswa yang bercita-cita untuk menjadi Diplomat, kalaupun tidak, bisa bekerja di tempat lain yang berkaitan dengan hubungan internasional.


Selanjutnya, Rektor didampingi oleh Kaprodi Ilmu Hubungan Internasional, Ketua Pelaksana TMC, dan Wakil Ketua Himpunan Hubungan Internasional, memukul gong sebagai tanda dibukanya Table Manner Course Tahun 2022.
Sebelum para peserta melaksanakan praktek TMC di satu hotel di Kota Bandung, terlebih dahulu menerima seminar yang disampaikan oleh Dirjen Informasi dan Diplomasi Publik Kemenlu RI, Dr. H. Teuku Faizasyah, M.Si. Selain itu, Rektor Universitas Jenderal Achmad Yani, Prof. Hikmahanto Juwana, S.H., LL.M., Ph.D juga turut memberikan seminar pada kegiatan TMC ini.


Dalam paparannya, Dr. H. Teuku Faizasyah menyampaikan seminar tentang Diplomasi Publik dalam Membangun Citra Publik di Era Diplomasi Digital. Menurut beliau, modalitas soft power Indonesia dapat dipromosikan kepada dunia melalui tiga unsur yakni sosial-budaya, ekonomi, dan politik. Lalu, menurut survey digital yang telah dilakukan kepada masyarakat asing di tahun 2021, hasil survey citra Indonesia mencapai angka 3,98 (dari skala 5) dan dari 10.356 responden. Survey yang dilakukan melalui sektor pariwisata dan sosial-budaya, ekonomi, dan pemerintahan dan penegakkan hukum.
Sebagai penutup materi, Dr. H. Teuku Faizasyah juga menyampaikan etika dasar interaksi dan diplomasi di media sosial. Menurutnya, kita harus bisa diseminasi informasi seluas-luasnya. Memperbanyak kawan dan tidak mencari lawan. Interaksi dan diplomasi di dunia maya harus mencerminkan perilaku di dunia nyata. Terakhir, yaitu prinsip kehati-hatian; bersikap santun, menghindari hoaks, dan menjaga rahasia negara.


Memasuki seminar kedua yang disampaikan oleh Prof. Hikmahanto Juwana, S.H., LL.M., Ph.D dengan tema Etika Diplomasi di Era Diplomasi Digital. Menurut Prof. Hikmahanto Juwana, dengan adanya pandemi Covid-19, telah mengubah bagaimana manusia harus bertindak, termasuk dalam dunia diplomasi. Masih menurut beliau juga, saat ini diplomasi tidak lagi dilakukan secara tatap muka, tetapi juga memanfaatkan fasilitas video conference dan sosial media. Pemanfaat teknologi digital dalam interaksi diplomasi ini dikenal sebagai Diplomasi Digital.
Pada penutupnya Prof. Hikmahanto Juwana mengungkapkan peran Indonesia dalam hal Diplomasi. Pertama, Indonesia perlu mendorong ILC melalui Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk segera memulai membuat draftt articles. Kedua, Indonesia perlu mengumpulkan para pakar dan praktisi hubungan internasional untuk mengidentifikasi batasan dan kriteria Diplomasi Publik yang diperbolehkan. Terakhir, identifikasi isu ini yang menjadi usulan draft articles untuk mendapat pembahasan para anggota ILC.
Kegiatan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab dan berlangsung dengan interaktif. Seminar ditutup dengan pemberian cenderamata dan foto bersama.
 
**Ismail**